Siapa yang sekarang
sudah mengetahui jodohnya? Angkat tangan! Saya meyakini bahwa ada banyak
pemuda-pemudi yang tak berani melakukannya. Kenapa? Jawabannya simple,
karena belum terukur secara andal.
Estimasi-estimasi bisa
dilakukan dengan sesempurna mungkin, namun resiko siapa yang tahu?
Penentuan jodoh yang tepat sama seperti mengestimasikan penjualan dimasa
depan. Jika penjualan bisa diestimasikan dengan menargetkan capaian
meningkat beberapa persen dan Laba akhir sekian persen, Jodoh pun
demikian adanya.
Sebagai contoh, untuk
mencapai target penjualan. Arya bisa melakukan perluasan pasar. Jika
sekarang Arya hanya berjualan di Blok M Plasa, Arya memperluas pasarnya
ke Grand Indonesia. Usaha ini diharapkan bisa menaikkan penjualan hingga
45% dengan laba kotor sekitar 35% dengan beban usaha tidak naik lebih
dari 25%. begitu pula dengan jodoh, agar bisa bertemu jodoh pada tahun
2015, Arya harus meningkatkan jumlah pilihan. Hal ini mengingat, perlu
pilihan yang matang untuk melanjutkannya pada pernikahan. Untuk itu,
Arya perlu memperluas pasar jodohnya. Perluasan pasar jodoh bukan
berarti Arya menggombal disetiap sudut jalan. Tidak. Perluasan pasar
jodoh bisa dimaknai dengan Arya memperluas lingkup pertemanan dan
interaksi dengan wanita atau calon mertua.
Dalam Perluasan pasar jodoh terdapat dua pendekatan, yakni: resiko dan cost and benefit.Untuk
resiko, perluasan pasar jodoh bisa mengurangi resiko. Hal ini mengingat
konsep diversifikasi dalam investasi. Apabila kita berinvestasi hanya
pada satu jenis investasi, resiko yang kita tanggung lebih besar
daripada kita melakukan diversifikasi.
Contoh, kita pacaran.
Artinya kita sedang fokus dengan satu investasi (pacar kita), resiko
gagal dan biaya jauh lebih besar daripada kita melakukan diversifikasi.
Diversifikasi disini bukan berarti kita memiliki pacar dua atau tiga
sekaligus. Tidak. Dengan menambah jumlah pacar, berarti kita menambah initial outlay (pengeluaran awal). Ingat, Cash is the king. Setiap
perusahaan berusaha memperkecil pengeluaran modal awal karena
pertimbangan nilai waktu uang. jadi, penambahan jumlah pacar tidak
tepat. Diversifikasi yang lebih tepat adalah kita menurunkan harga
investasi (menurunkan status dari pacar ke teman), sehingga kita bisa
memiliki investasi (teman) yang lebih banyak tapi dengan pengeluaran
awal yang sama.
Timbul pertanyaan, “Loh, bukannya itu akan memperkecil kemungkinan menikah?”. Dalam perhitungan return, kita harus mempertimbangkan resiko, biaya dan return yang diharapkan. Semua dinilai dengan present value. Dengan
diversifikasi investasi berupa penambahan jumlah teman wanita dan
meninggalkan istilah pacar, kita sedang berusaha memperkecil resiko dan
biaya. Return memang tidak sebesar kita punya pacar. tapi resiko jauh
lebih kecil. Hal ini mengingat standar deviasi pacar jauh lebih tinggi
dari pada teman. Jika return maksimal bisa menikah dan lebih puas dan
apabila return minimal gagal menikah dan tidak sepuas yang mengambil
istri dari teman.
Secara pribadi,
saya tidak menyarankan untuk mengambil investasi pacar sebagai pilihan
untuk estimasi jodoh masa depan mengingat resiko dan biaya yang lebih
besar. Namun, ada tipe orang yang suka tantangan. Konsep high risk high return bisa
dijadikan sebagai dasar. Tapi secara umum, setiap investor lebih suka
bermain aman. Ingat, selain keuntungan, seorang investor juga memikirkan
keamanan dari investasinya. Nah, kita sebagai makhluk tuhan yang paling
cerdas, tentu tidak ingin kalah dari investor bukan? Pilihlah, ingin
mengamankan investasi jodoh dan mendapatkan return yang pantas atau
bermain dengan resiko tinggi dengan ancaman kerugian dalam return tapi
jika untung luar biasa. Semua ada ditangan kita masing-masing. Selamat
memilih.
“Aku jatuh cinta bukan karena dirimu tapi karena Allah yang menyebabkan hatiku memanggil namamu.”