Pernahkah kita menyadari bahwa dakwah adalah sebuah seni? Ya dakwah adalah seni mempengaruhi orang lain dengan kebenaran yang kita tawarkan. Memang, Kebenaran itu mutlak dan hanya milik Allah dan Rasulnya, namun perbedaan pendekatan akan membedakan materi dakwah. Satu pendekatan menyatakan bahwa boleh mengambil hujjah dari hadits Dhoif untuk hal-hal tertentu, namun pendekatan lain melarang mengambil hujjah dari hadits dhoif apapun ceritanya. Dan tentu, ini akan melahirkan perbedaan kebenaran.
Lantas harus diapakan perbedaan ini? bukan dimusnahkan
tapi disampaikan kepada umat bahwa tidak ada yang salah dengan perbedaan
ini. Kaidah fiqh nya:
Al Ijtihadu La Yanqudlu bil Ijtihadi (Ijtihad tidak dapat dibatalkan dengan Ijtihad)
Dan juga sebagaimana diungkapkan Abu Nashar Al-Muqaddasi,
“Perbedaan Pendapat dikalangan Ulama akan membawa rahmat”
Dan diperkuat melalui Hadits Rasulullah SAW:
“Apabila seorang hakim akan memutuskan suatu perkara, lalu ia melakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya benar maka ia memperoleh dua pahala (Pahala ijtihad dan pahala Kebenarannya). Jika hakim memutuskan perkara dan ia berijtihad, kemudian hasil ijtihadnya salah maka ia mendapatkan satu pahala (pahala Ijtihadnya) [HR. Bukhari Muslim]
Lantas jika perbedaan benar-benar diakomodir, bagaimana
kita bisa menemukan kebenaran yang sebenarnya agar kita memperoleh
pahala ijtihad dan pahala kebenarannya? Jawabannya sederhana. Kembalikan
kepada Allah dan rasulnya.
“Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah danRasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa’ : 59]
Imam As-Suyuthi berkata:
“Kemudian al-Baihaqi mengeluarkan suatu riwayat dengan sanadnya dari Maimun bin Marhan tentang firman Allah (diatas). Maksud “mengembalikan kepada Allah” dalamayat ini adalah mengembalikan kepada kitab-Nya yaitu Al-Qur’an, sedangkan mengembalikan kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau telah wafat “adalah kembali kepada Sunnah beliau” [Miftahul Jannah fii-Ihtijaj bi As-Sunnah (edisi Indonesia); hal. 36-46]
Diperkuat oleh pernyataan Ibn Katsir:
“Ini adalah perintah dari Allah Azza wa Jalla, bahwa segala perkara yang diperselisihkan oleh manusia, yang berkaitan dengan ushul dan furu’ agama wajib dikembalikan kepada al-Qur`an dan sunnah. Sebagaimana firman Allah, “Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusannya terserah kepada Allah.” (Asy-Syura: 10).
Untuk Al Quran, sudah jelas. Tidak perlu ada yang
mempertanyakan kekuatannya lagi. Dan Sunnaturrasul, ini diketahui dari
Hadits. Ada hadits yang dapat dijadikan hujjah, ada yang tidak. Ulama
berbeda pendapat terkait hal ini. contohnya hadits Dhoif. Diriwayatkan
dari Ibn Sayyidin Nas dari Yahya bin Mu’in bahwa secara mutlak tidak
dibenarkan mengambil hujjah dari hadits dhoif. Pendapat ini dipakai oleh
Abu Bakar Al Araby sebagaimana Al Bukhari dan Muslim dengan
persyaratannya. Ibn Hazm juga mengambil pendapat yang sama. Beberapa
ulama juga mengatakan secara mutlak boleh mengamalkan hadits Dhoif.
Pendapat ini dinisbatkan kepada Abu Daud dan Imam Ahmad. Sedangkan Ibn
Hajar mengatakan boleh mengamalkan hadits Dhoif asalkan adanya keutamaan
dalam pelaksanaannya. Namun ia mempersyaratkan kehati-hatian dan dhoif
nya hadits tersebut tidak keterlaluan.
Perbedaan pendekatan ini sudah pasti menghasilkan perbedaan hukum. Dan ini adalah rahmat bagi umat.
Dakwah, disini kita menekankan. Ketika kita berdakwah,
kita tekankan bahwa pendapat ini benar dengan dalilnya ini, pendapat itu
benar dengan dalilnya ini, dan pendapat itu benar dengan dalilnya itu.
insya allah, akan muncul diskusi-diskusi kecintaan terhadap islam
sehingga ada semangat untuk mendalami islam.
Tentu, kita butuh inspirator. Kita butuh penarik
perhatian. Jika dia diam, si anu diam, mereka diam, atau hanya
mewakilkan kajian dari satu pandangan saja, ya sebatas itulah yang kita
tahu. Kita menakutkan ketika muncul perbedaan, umat kurang cerdas dalam
berekspresi.
Untuk itu, jika ditanya mau dibawa kemana dakwah ini?
jawabannya satu. Kita perkaya ilmu islam kita dan kita bersiap untuk
kejayaan Islam dimasa depan. Insya allah, jika kita berhasil menanamkan
ilmu bahwa perbedaan itu adalah rahmat, Islam akan kembali menjadi kuat.
Karena umat tidak sibuk mengurus perbedaan, karena mereka tahu
perbedaan itu biasa. Dan insya allah, umat akan lebih sibuk
mengembangkan kualitas pribadi.
Semoga allah meridhai setiap niat suci kita.