Menjadi Negara Al Quran
Tausiyah Kebangsaan oleh: Prof. Dr. M. Amien Rais MA
Tanggal: 19 Januari 2013
Al Quran telah banyak mengajarkan kisah-kisah siyasah dan kenegaraan. Salah satunya dalam Al Quran menceritakan kejadian zaman Nabi Musa. Dan dari hasil para pemikir islam, dapatlah kita mengetahui bahwa Negara akan hancur jika telah muncul penguasaan oleh 4 + 1 elit. Ini sudah dicontohkan dalam Al Quran di zaman Nabi Musa.
Sekuat-kuat elit di zaman nabi musa tersebut, mereka kalah. Mereka dikalahkan oleh rakyat kecil, kaum dhuafa. Tapi harus ada syaratnya yakni WELL ORGANIZED. Tidak ujuk-ujuk Musa mampu mengalahkan mereka. Allah men-design pergerakan mereka dan membuat mereka dikejar-kejar hingga dibenamkanlah orang-orang kafir di lautan luas.
Untuk itu, kalian harus merapat pada rakyat. Harus merapat pada kaum dhuafa. Kenapa? Karena mereka butuh bantuan, kenapa? Karena ditangan merekalah kemenangan dijanjikan. Sebuah hadits yang masyur :
Kita bisa mengambil contoh dari bagaimana negeri kita ini dimenangkan melalui kaum dhuafa. Tapi bukan berarti kita bisa menang begitu saja. Negeri kita dimenangkan oleh Allah, dimerdekakan oleh Allah melalui WELL ORGANIZED pemimpin-pemimpin yang dekat dengan kaum dhuafa. Soekarno, Bung Hatta, mereka yang memimpin pergerakan rakyat ini.
Oleh karena itu, kita berpihak. Kita tidak netral. Kita berpihak pada kaum dhuafa. Itulah warna kita. Maka Allah janjikan kemenangan untuk kita. Tapi dengan tambahan satu syarat lainnya, WELL ORGANIZED.
Kemajuan bangsa, tentu disebabkan oleh banyak factor. Factor yang paling berpengaruh adalah kaum minoritas kreatif. Kemajuan moral, kultural, dan teknologi ini berada ditangan mereka. Demi kaum dhuafa, kita harus bisa menjadi salah satu dari mereka, kaum minoritas kreatif.
Kenapa harus? Sebagian besar dari kita telah terjebak oleh rutinitas sehari-hari. Ada yang puas dengan dirinya, puas dengan keadaannya, dan puas dengan apa yang ia dapatkan. Coba pikirkan kenapa Libya jatuh? Negeri-negeri yang pembesarnya adalah elit-elit yang tersebut, tidak akan mampu memenangkan pertempuran dengan kaum dhuafa yang diberikan keberanian dari Allah. Itu janji Allah. Namun perlu dicermati dan dihayati bahwa Kemenangan masyarakat Libya itu kita mesti lihat dibelakangnya siapa. Kita perlu hati-hati. Libya sudah diserang oleh kaum tertentu untuk keuntungan tertentu. Tidak mustahil berikutnya adalah Indonesia maupun Negara tetangga kita, Malaysia. Karena kitalah Negara dengan populasi muslim terbesar di Dunia.
Menghadapi semua itu, kita harus kembali pada Pancasila. Kenapa pancasila? Pancasila adalah refleksi dari nilai-nilai Al Quran. Adil, adalah satu-satunya kata yang dimiliki oleh Al Quran dan tidak dimiliki yang lain. Dan itu masuk menjadi bagian dari Pancasila. Jadi, kembali ke pancasila berarti kembali pada nilai-nilai Al Quran yang mampu menyelamatkan manusia.
Kata lainnya adalah Adab. Bagaimana Al Quran diturunkan untuk menjadikan manusia lebih beradab. Paham kerakyatan pun tidak lepas darinya, bagaimana musyawarah telah dituliskan didalamnya untuk mencapi keadilan. Adil, Adab, Musyawarah. Nilai-nilai ini adalah nilai-nilai Al Quran. Jadi kembalilah pada Al Quran, negeri ini akan terselamatkan dengan janji Allah.
Kita harus ingat, ingat dengan baik, apa yang kita perjuangkan pada hari ini tidak akan serta merta dibalas Allah langsung. Butuh waktu sebagaimana sejarah juga menceritakan seperti itu. Tidak otomatis Indonesia merdeka bukan? Butuh waktu. 10 sampai berapa belas tahun ke depan. Hal yang harus kita lakukan adalah ISTIQOMAH. ISTIQOMAH atas apa yang kita perjuangkan. Jangan luntur oleh keberingasan kaum-kaum tertentu yang rusak.
Untuk itu, bangun budaya rakyat! Bangun budaya Islami! Hapuskan budaya feodal!
Bangun Budaya Islami! Bangun Budaya Islami!
#Belajar Politik = Belajar Agama Islam
#Fasbiqul Khairat
Tausiyah Kebangsaan oleh: Prof. Dr. M. Amien Rais MA
Tanggal: 19 Januari 2013
Al Quran telah banyak mengajarkan kisah-kisah siyasah dan kenegaraan. Salah satunya dalam Al Quran menceritakan kejadian zaman Nabi Musa. Dan dari hasil para pemikir islam, dapatlah kita mengetahui bahwa Negara akan hancur jika telah muncul penguasaan oleh 4 + 1 elit. Ini sudah dicontohkan dalam Al Quran di zaman Nabi Musa.
1. Elit Politik Zaman Musa, Elit politik yang menguasai adalah Fir’aun. Dia menguasai daratan dan jiwa-jiwa kaum dhuafa. Ketidakadilan, ketertindasan, sudah menjadi makanan sehari-hari kaum dhuafa saat itu. Sampai akhirnya Musa, bukan seorang kaya, mampu menenggelamkannya melalui izin dari Allah
2. Elit Militer
Elit Militer merupakan kalangan yang dekat dengan istana fir’aun. Setiap perkataan, perbuatan, dan tindakan istana diamini oleh mereka. Penindasan kaum dhuafa sudah tidak mampu dielakkan
3. Elit Ekonomi
Elit Ekonomi di zaman musa yang terkenal adalah Qorun. Sang pemilik harta yang congkak lagi sombong. Nasib nya dibenamkan oleh Allah didalam perut bumi. Sungguh tak terbayangkan apa saja yang telah diperbuatnya kepada kaum dhuafa disekitarnya
4. Elit Teknokrat
Elit ekonomi di zaman musa yang terkenal adalah Hamman. Ketika itu fir’aun memerintahkan Hamman agar membuat bangunan yang tinggi agar ia mampu melihat Tuhannya musa. Begitu hina mereka. Teknokrat adalah designer fisik dari sebuah negeri. Namun ketidakpahaman mereka akan menjadikan negeri salah dan tidak berjalan pada in the right track
5. Elit Rohaniawan yang terpeleset
Telah ada zaman Musa, rohaniawan yang ditunjukkan jalan yang benar namun ia memelesetkan dirinya. Ia benarkan tindakan lalim sang penguasa. Dan akhirnya, kaum dhuafa lah yang tersiksa.
Sekuat-kuat elit di zaman nabi musa tersebut, mereka kalah. Mereka dikalahkan oleh rakyat kecil, kaum dhuafa. Tapi harus ada syaratnya yakni WELL ORGANIZED. Tidak ujuk-ujuk Musa mampu mengalahkan mereka. Allah men-design pergerakan mereka dan membuat mereka dikejar-kejar hingga dibenamkanlah orang-orang kafir di lautan luas.
Untuk itu, kalian harus merapat pada rakyat. Harus merapat pada kaum dhuafa. Kenapa? Karena mereka butuh bantuan, kenapa? Karena ditangan merekalah kemenangan dijanjikan. Sebuah hadits yang masyur :
"Sunnah kalian itu diberi rizki oleh Allah dan dimenangkan olehnya karena dukungan dari kaum dhuafa"
Kita bisa mengambil contoh dari bagaimana negeri kita ini dimenangkan melalui kaum dhuafa. Tapi bukan berarti kita bisa menang begitu saja. Negeri kita dimenangkan oleh Allah, dimerdekakan oleh Allah melalui WELL ORGANIZED pemimpin-pemimpin yang dekat dengan kaum dhuafa. Soekarno, Bung Hatta, mereka yang memimpin pergerakan rakyat ini.
Oleh karena itu, kita berpihak. Kita tidak netral. Kita berpihak pada kaum dhuafa. Itulah warna kita. Maka Allah janjikan kemenangan untuk kita. Tapi dengan tambahan satu syarat lainnya, WELL ORGANIZED.
Kemajuan bangsa, tentu disebabkan oleh banyak factor. Factor yang paling berpengaruh adalah kaum minoritas kreatif. Kemajuan moral, kultural, dan teknologi ini berada ditangan mereka. Demi kaum dhuafa, kita harus bisa menjadi salah satu dari mereka, kaum minoritas kreatif.
Kenapa harus? Sebagian besar dari kita telah terjebak oleh rutinitas sehari-hari. Ada yang puas dengan dirinya, puas dengan keadaannya, dan puas dengan apa yang ia dapatkan. Coba pikirkan kenapa Libya jatuh? Negeri-negeri yang pembesarnya adalah elit-elit yang tersebut, tidak akan mampu memenangkan pertempuran dengan kaum dhuafa yang diberikan keberanian dari Allah. Itu janji Allah. Namun perlu dicermati dan dihayati bahwa Kemenangan masyarakat Libya itu kita mesti lihat dibelakangnya siapa. Kita perlu hati-hati. Libya sudah diserang oleh kaum tertentu untuk keuntungan tertentu. Tidak mustahil berikutnya adalah Indonesia maupun Negara tetangga kita, Malaysia. Karena kitalah Negara dengan populasi muslim terbesar di Dunia.
Menghadapi semua itu, kita harus kembali pada Pancasila. Kenapa pancasila? Pancasila adalah refleksi dari nilai-nilai Al Quran. Adil, adalah satu-satunya kata yang dimiliki oleh Al Quran dan tidak dimiliki yang lain. Dan itu masuk menjadi bagian dari Pancasila. Jadi, kembali ke pancasila berarti kembali pada nilai-nilai Al Quran yang mampu menyelamatkan manusia.
Kata lainnya adalah Adab. Bagaimana Al Quran diturunkan untuk menjadikan manusia lebih beradab. Paham kerakyatan pun tidak lepas darinya, bagaimana musyawarah telah dituliskan didalamnya untuk mencapi keadilan. Adil, Adab, Musyawarah. Nilai-nilai ini adalah nilai-nilai Al Quran. Jadi kembalilah pada Al Quran, negeri ini akan terselamatkan dengan janji Allah.
Kita harus ingat, ingat dengan baik, apa yang kita perjuangkan pada hari ini tidak akan serta merta dibalas Allah langsung. Butuh waktu sebagaimana sejarah juga menceritakan seperti itu. Tidak otomatis Indonesia merdeka bukan? Butuh waktu. 10 sampai berapa belas tahun ke depan. Hal yang harus kita lakukan adalah ISTIQOMAH. ISTIQOMAH atas apa yang kita perjuangkan. Jangan luntur oleh keberingasan kaum-kaum tertentu yang rusak.
Untuk itu, bangun budaya rakyat! Bangun budaya Islami! Hapuskan budaya feodal!
Bangun Budaya Islami! Bangun Budaya Islami!
#Belajar Politik = Belajar Agama Islam
#Fasbiqul Khairat