By: Waskito Wibowo
Dewasa ini, telah kita ketahui bahwasanya pesantren telah berkembang di
Indonesia dalam kuantitas yang cukup besar. Baik itu pesantren yang
bersifat shalafiyah, kholafiyah maupun yang bersifat modern. Kini
keberadaan pesantren telah diakui oleh berbagai kalangan masyarakat dari
lapisan bawah maupun atas. Salah satu keistimewaan pesantren yang
diminati masyarakat saat ini adalah metode pembelajaran yang diterapkan,
dimana lembaga pendididkan ini memadukan ilmu-ilmu pengetahuan agama
dengan pengetahuan umum yang bertujuan supaya para santri tidak kalah
wawasan dibandingkan siswa di lembaga pendidikan umum lainnya. Selain
itu, pesantren juga mendidik dan melatih para santri dengan pelbagai
macam ketrampilan yang ada. Dengan bekal inilah kelak para alumni
pesantren memiliki modal pengetahuan agama dan umum, pengalaman, modal
akhlak serta kemampuan lainnya yang dapat mempercerah masa depan mereka.
Sebagai lembaga pendidikan islam yang bersifat independent, ternyata
pesantren juga memiliki daya tawar politik tersendiri bagi konstelasi
perpolitikan di negri kita. Salah satu bukti yang mendukung yakni pada
musim pemilu, banyak pihak-pihak elit politik yang beramai-ramai sowan atau sambang
ke berbagai pesantren di nusantara ini khususnya pesantren yang
kyai-nya lebih familiar guna mendapat izin restu maupun dukungan politik
untuk memenangkan pemilu tersebut. Hal ini menunjukkan berbagai
pesantren dalam negri kita cukup penting.
Sekilas kita amati, hubunagn antara politik dan pesantren ini tidak
jauh beda dengan hubungan islam dan umatnya. dimana kedua unsur ini
saling terikat keberadaannya.
Pada hakekatnya, politik adalah nalurinya manusia yang merupakan hak
asasi yang dibawa sejak lahir, tak heran jika manusia disebut sebagai
mahluk sosial karena mereka membutuhkan masyarakat yang lainnya guna
berinteraksi dalam kehidupan sosialnya. Salah satu watak yang membedakan
manusia dengan mahluk lainnya adalah rasa memiliki suatu pemerintahan
yang berkuasa dan berkewibawaan, mereka ingin mengatur, serta memimpin
diri orang lain. Karena secara hakiki kehidupan mereka tidaklah mungkin
tanpa adanya bumbu-bumbu politik. Contoh yang sederhana adalah kekuasaan
seorang pemimpin. Manakala ia bertugas menafkahi hidup keluarganya,
membimbing serta mengayomi anggota keluarganya dari berbagai ancaman
pengaruh buruk suatu lingkungan.
Sampai saat ini politik pesantren di Indonesia mengalami dilematis,
disatu sisi ada pihak yang menentang bercampurnya politik dengan pondok
pesantren. Mereka berpendapat bahwa sebuah agama harus fokus pada satu
sumber saja dan tidak boleh bercampur baur dengan politik. Karena
sesungguhnya politik di Indonesia bukan merupakan politik islam seperti
yang diterapkan pada zaman kekhalifaan. Jika mereka mencampur- baurkan
antar politik dan pesantren yang sarat agama lantas agama yang sudah
mereka dapatkan bisa menjadi ahan permainan layaknya siasat kaum
politik.dari sisi lain, ada pihak yang memperbolehkan bahkan
menganjurkan supaya masyarakat pesantren andil serta dalam urusan
politik. Jika diperhatikan, saat era modern ini Indonesia telah
mengalami perkembangan yang cukup pesat khususnya budaya,. Sebagian
wilayah Indonesia telah terkontaminasi oleh budapa hedonisme, kepalsuan
dan keserakahan yang bermuasal dari dunia barat. Budaya-budaya tersebut
tidak hanya mempengaruhi lingkunagn keremajaan saja, bahkan sudah
menjangkit di lingkungan pemerintahan kita. Tak ayal, saat ini banyak
bertebaran kasus korupsi, suap-menyuap, perampasan aset dan lain-lain.
Yang mana hal-hal tersebut dilakuakn oleh pejabat-pejabat negri ini yang
tak lain pemimpin bangsa Indonesia.
Andaikan orang islam tidak mau terjun ke dunia politik, khususnya
masyarakat pesantren. Lantas apa jadinya negri ini dan bagaimana keadaan
Indonesia kedepannya misalkan perpolitikan ini hanya dipegang oleh
orang-orang non muslim ataupun masyarakat yang awam terhadap ajaran
islam.
Selain sebagai lembaga pendidikan, pesantren juga berfungsi sebagai alat
islamisasi yang sekaligus memenuhi tiga unsur utama, natara lain:
ibadah guna menanamkan iman terhadap agama, tabligh guna menyampaikan
dan menyebarkan ilmu kepada umat, dan amal supaya diwujudkan dala
kehidupan sehari-hari.dengan adanya unsur penting ini, maka pastinya
para santri pesantren selain mendalami agama juga mendapatkan bekal
pembelajaran umum di sekolah kelak menjadi generasi bangsa yang agung
serta terdidik menjadi pemimpin umat dengan visi amar ma’ruf nahi
munkar. Maka, kini sudah saatnya masyarakat berbasis pesantren
berpeluang untuk terjun dalam dunia politik, mengemban amanah atas dasar
tiga prinsip, yakni: jabatan merupakan amanah dari rakyat yang harus
dijalankan sebaik-baiknya guna membangun kesejahteraan bersama. Kedua,
setiap jabatan politik yang diemban harus disadari bahwa masing-masing
tredapat pertangung jawaban atas kepemimpinannya kepada Allah SWT.
Ketiga, setiap kegiatan politik harus dikaitkan secara ketat melalui
prinsip ukhuwah guna memupuk persaudaraan antar sesama dan menghindari
adanya gaya konfrontatif yang penuh dengan pelbgai konflik semacam rasa
ingin mengeliminasi pihak politik lainnya.
Sungguh sangat didambakan oleh rayat Indonesia jika masyarakat pesantren
bisa melaksanakan amanah ini dengan baik. Sehingga masyarakat umum akan
mendukung sepenuhnya dan tidak akan merasa asing lagi dengan istilah
pesantren mengingat substansi yang ada dalam ajaran pesantren.
Dan sudah saatnya pula pihak pesantren muncul memainkan perannya bagi
dunia politik Indonesia maupun tatanan internasional karena pemikiran,
pemahaman masyarakat berbasis pesantren sarat dengan nilai-nilai moral
yang belum terkontaminasi oleh budaya barat.