Sub Menu

Tampilkan postingan dengan label Gender. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gender. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Oktober 2012

Feminisme dalam konteks budaya Indonesia

By: Tsani Ariant

Seiring berkembangnya zaman dengan berkembangnya teknologi yang pesat, dan adanya perubahan sosio-kultural yang dewasa ini telah melanda hampir semua lapisan belahan dunia. Dengan keadaan inilah yang menyebabakan timbul dan maraknya muncul pula gerakan-gerakan feminisme seperti kelompok liberal, marxis, sosialis serta radikal. Secara tidak langsung pula, gerakan semacam ini telah mengubah pola pikir masyarakat dunia untuk saling bersaing dan menunjukkan kelebihan mereka kepada seisi jagat raya.

         Kemajuan Tehnologi kini juga telah mengubah banyak kaum hawa cenderung memploklamirkan keeksistensi dirinya akan peranan yang mutlak bagi kehidupan dunia. Bahkan sampai saat ini, banyak kalangan yang muncul guna memperjuangkan hak-hak paten mereka atas dasar prinsip persamaan gender. Selain itu, mereka mengklaim bahwa
         Dalam konteks islam sendiri, telah ditetapkan dalam al-qur’an mengenai pandangan atas kesetaraan laki-laki dan perempuan.dan telah terbukti dari kitab-kitab klasik yang menjelaskan jatran islam sepertitafsir, mankala di gembarkan secara jelas dalam surat an-nisa’: 34, bahwasanya kedudukan kaum laki-laki lebih superior di bandingkan kaum hawa.berkaitan dengan persamaan gender, banyak kalangan feminis muslim yang mengkritik wacana tafsir al-quran tentang status wanita.
         Munculnya paradigma baru terkait persamaan gender kini telah menmpengaruhi perspektif para wanita-wanita islam, banyak kalangan yang beranggapan bahwa dalam ajaran islam belum sepenuhnya  menjamin adanya hak-hak dan derajat kaum hawa, mereka menganggap bahwa kaum hawa berhak mendapatkan kedudukan yang sama dalam  dunia politik, ekonomi maupun sosial dan budaya. Bahkan, mereka berupaya untuk menjunjung dan secepatnya memproklamirkan kesejahteraan hidup mereka.
         Melihat kontra diksi seperti ini, kita bisa memflash back kembali sejarah dan hakekat wanita yang sesungguhnya. Kalau melihat realita pada zaman jahiliyah, kita tahu bahwasanya peradaban bangsa arab saat itu masih tertinggal, pasalnya terdapat diskriminasi hak hidup atas kaum lelaki dan hawa, bangsa arab yang memang bermoral bejat dan belum tersentuh oleh ajaran islam, menganggap dam mempercayai bahwa kedudukan kaum adam itu lebih mulia jika dibandingkan kaum hawa, bahkan, andaikata mereka mempunyai bayi perempuan pastilah akan segera mungkin menguburnya. Karena pada hakekatnya kaum hawa hanya membuat aib dan sama sekali tidak bisa diandalkan, seperti halnya menjadi budak ataupun tidak dapat diajak perang militer, sedangkan apabila bangsa arab mempunyai bayi laki-laki maka mereka dengan bangga mendidik nya yang kelak bisa berguna bagi masa depan keluarganya. Akan tetapi teori ini berhasil dipatahkan, ketika agama islam datang dengan membawa  petunjuk dan rahmat. Selain itu, dalam agama islam tidak mengenal diskriminasi antara kaum adam dan hawa dalam berbagai aspek kehidupan. Karena pada hakekatnya semua manusia baik jenis pria maupun wanita merupakan mahluk Allah SWT yang memiliki kodrat ataupun hak vital yang telah dianugrahkan sejak lahir, dan yang menjadikankedudukan mereka mulia disisi Allah AWT adalah ketaqwaan mereka. Namun dalam konteks islam juga telah diatur batasan-batasan mengenai kedudukan dan hak yang membedakan antara kaum pria dan wanita. Salah satu aturan ajaran islam yang membahas mengenai konsep ini adalah pembagian harta warisan antara kaumlelaki dan perempuan, dimana persentase porse hak waris laki-laki dan perempuan berbanding 1:1/2, sesuai dengan makna yang tersirat dalam Al-qur’an bahwasanya kaum lelaki mempunyai kewajiban dan tanggungjawab menafkahi hidup anak-istrinya sehingga dengan porsi warisan sedemikian rupa bisa mejadi modal usaha kerja, sedangkan kaum perempuan hak-haknya telah dialihkan kepada suaminya sepenuhnya, jadi semua kebutuhan dan hak-hak perempuan telah dijamin oleh suaminya. Selain kajian ini, telah disebutkan pula dalam konsep ajaran islam bahwa seorang wanita tidak layak menjadi seorang pemimpin, manakala dalam suatu kaum masih terdapat seorang pria, maka hendaklah pria tersebut yang memimpin dan bertanggungjawab sepenuhnya atas suatu kaum tersebut meskipun secara fisik dan obyektifnya perempuan tersebut lebih kuat dan pemikiranya lebih cerdas di bandingkan kaum lelaki tersebut.seperti fenomena yang terjadi di masyarakat kita saatini, banyak kaum hawa berlomba-lomba menyalurkan kemampuannya dalam kegiatan perpolitikan seperti mantan presiden Indonesia megawati soekarno putri, ataupun Airin Rahmi sebagai dalon bupati kota tangerang, dan masih banyak lagi. Dan secara tegas pula, nabi Muhammad SAW pun memperingatkan dalam suatu hadits yang berbunyi:
“sesungguhnya aku tidak akan meridhoi suatu kaum, dimana kau tersebut dipimpin oleh kaum wanita”. Dari kutipan hadits ini, dapat kita telaah bahwasanya Allah SWT menciptakan kaum lelaki dan perempuan di dunia ini mempunyai porsi-porsi kedudukan tersendiri sesuai aturan hukum islam dimana laki-laki lebih pantas menjadi seorang pemimpin umat terkait sifat lahiriahnya yaitu kuat, kekar, bisa menjaga dan mengayomi para anggotanya dari suatu ancaman.

Wanita itu Ibarat Bunga

By: Nailil Farohah


"Harta yang paling berharga di dunia adalah wanita yang solehah." (HR Muslim)
Wanita ibarat bunga... cantik indahnya pada pandangan mata hanya sementara... Yang kekal menjadi pujaan manusia, hanyalah wanita yang mulia akhlaknya... karena akhlaq wanita ibarat bunga diri.. Tiada guna berwajah cantik tetapi akhlaq buruk.. tiada guna juga berwajah cantik tetapi hati kosong dari ilmu...

Ibarat bunga.. ada yang cantik bila dipandang tetapi busuk baunya... Ada pula yang kurang menarik dan baunya juga kurang menyenangkan... Ada juga bunga yang tidak menarik pada pandangan mata kasar.. tetapi bila dihalusi dengan mata hati, ternyata amat tinggi nilainya....

Wanita adalah makhluk Allah yang amat istimewa. Kemuliaan dan keruntuhan sesuatu bangsa terletak di tangan wanita. Oleh yang demikian, Allah telah menetapkan hukumnya ke atas mereka; walaupun berat di pandangan mata si jahil dan ingkar tetapi ia adalah kemanisan iman yang dicicip oleh wanita solehah.

Karena itulah... Sebagai anak, dia menjadi anak yang solehah... Sebagai remaja dia akan menjadi remaja yang bersemangat.. sebagai isteri, dia menjadi isteri yang menyenangkan dan menenangkan hati suaminya.. sebagai ibu, dia akan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang... dan pastinya sebagai hamba Allah, dia akan menjadi hamba yang tunduk dan menyerah diri hanya kepada-Nya.

Allah swt berfirman dalam surah an-Nisa' ayat 24 yang artinya,
"Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang soleh baik lelaki mahupun wanita sedang ia seorang yang beriman maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun."

Dalam Islam wanita amat dihormati dan dihargai peranannya. Sebagaimana eratnya hubungan siang dan malam yang saling melengkapi, begitu juga lelaki dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi. Setiap lelaki dan wanita memiliki tugas dan kewajiban yang berlainan, sesuai dengan fitrah masing-masing. Namun, tujuan hidup setiap lelaki dan wanita adalah sama, iaitu mencari redha Allah (Mardhatillah). Allah telah berfirman,

"Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang soleh baik lelaki mahupun wanita sedang ia seorang yang beriman maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun." (QS. An-Nisaa : 124)

Rasulullah juga turut memerintahkan umatnya supaya memperlakukan wanita sebaik-baiknya sebagaimana sabdanya: "Mereka yang paling sempurna di kalangan mereka yang ikhlas adalah mereka yang mempunyai akhlak yang terbaik dan yang terbaik dikalangan kamu adalah yang paling baik terhadap isterinya." (HR At-Tirmidzi)

Rasulullah saw telah memerintahkan supaya kaum wanita diperlakukan menurut fitrah ia dijadikan sebagaimana dalam sabdanya: "Berlaku baiklah terhadap kaum wanita lantaran mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok adalah bahagian yang teratas, jika kamu cuba untuk meluruskannya kamu akan mematahkannya dan jika kamu membiarkannya ia akan tetap bengkok, maka berlaku baiklah terhadap kaum wanita kamu." Al-Bukhary dan Muslim

Nilai wanita dalam Islam amat bertentangan dengan apa yang diperjuangkan oleh wanita Barat. Nilai wanita bukan terletak pada fesyen pakaiannya yang menonjol, berhias diri untuk memperlihatkan kecantikannya, tetapi hakikatnya ialah pada kesopanan, rasa malu dan keterbatasan dalam pergaulan
.

Menguak Tabir dibalik “jilbab”

By: Elvin Ferayanti

Di era yang serba luxurious ini, banyak kita jumpai berbagai mode fashion pakaian masa kini, hampir seluruh item dari jenis trend pakaian di Indonesia berkiblat pada fashion ala barat. Mulai pakaian anak kecil, remaja  hingga dewasa. Namun dewasa ini model busana  yang paling tampak ditransaksikan adalah jenis busana wanita,  salah satu ragamnya yang paling ngetrend  saat ini adalah jilbab. Banyak sekali kita temui para remaja putri yang mengenakan jilbab mereka pada saat even-even tertentu seperti KBM di sekolah, acara pesta, hingga moment-moment berbasis islami seperti pada saat bulan suci ramadhan meskipun hanya digunakan sebagai atribut pelengkap busana tersebut guna terlihat tampil cantik, anggun dan menawan.

            Selain itu, munculnya produk-produk jilbab ini dapat dijadikan sebagai komoditas promo bagi para distributor di Indonesia saat ini karena nilai jual jilbab sangat tinggi seiring berkembangnya aspek nilai seni yang sesuai dengan meningkatnya kreatifitas para produsen busana dalam menuangkan ide-ide guna mengembangkan imajinasinya dalam mendesaign suatu karya busana dengan mode yang tak kalah unggul dari barang import lainnya.
            Salah satu problematika yang harus kita pecahkan sebagai seorang muslimah adalah hakekat dan kedudukan jilbab tersebut dimata khalayak umum. Sungguh sangat ironis apabila sosok wanita muslimah itu sendiri tidak dapat memahami dan mengenali busana yang selama ini mereka kenakan. Apakah jilbab masa kini tetap dijadikan atribut seorang muslimah yang berorientasi pada akhlak atau sebagai suatu kewajiban guna menutup aurat atau bahkan hanya dijadikan sebagai simbolis busana muslimah yang tidak mempunyai arti dan makna yang luas????.
            Sebelum kita menelaah lebih lanjut pemahaman tentang jilbab, kita juga harus bisa membedakan bentuk antara jilbab dan kerudung, karena sampai saat ini masyarakat kita menganggap bahwa kedua jenis busana tersebut adalah sama, perlu kita ketahui kerudung adalah selembar kain yang berfungsi menutupi bagian kepala melalui tudung tersebut, sedangkan jilbab adalah pakaian muslimah yang menutupi sekujur  permukaan badan kita mulai atas kepala sampai mata kaki. Kedudukan jilbab juga bukan hanya sebagai penutup aurat saja, akan tetapi dengan jilbab itu sendiri bisa dijadikan srbagai tolok ukur dan pengontrol akhlak seorang muslimah.karena dengan mengenakan busana jilbab ini srorang wanita pasti akan merasa malu akan setiap tindakannya yang melanggar aturan dan pastinya mereka akan selalu menjaga iffah dimanapun berada,
Secara harfiah hakekat jilbab adalah hijab lahir batin. Hijab mata bagi wanita dari memandang lelaki yang bukan mahram mereka. Dan sebagai hijab lidah bagi mereka dari berghibah (ghosib) dan kesia siaan, usahakan selalu berdzikir kepada Allah SWT. Hijab telinga bagi mereka dari mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk diri mereka sendiri maupun masyarakat. Sebagai hijab hidung dari mencium cium segala yang berbau busuk. Sebagai hijab tangan-tangan dari berbuat yang tidak senonoh. Sebagai hijab kaki dari melangkah menuju maksiat. Sebagai hijab pikiran dari pola berpikir yang mengundang syetan untuk memperdayai nafsu bagi mereka. Sebagai hijab hati bagi mereka dari sesuatu selain Allah SWT, apabila mereka sudah terbiasa maka jilbab yang dipakai akan menyinari hati mereka masing-masing, itulah hakekat jilbab.
Akan tetapi di masa sekarang banyak pula ditemukan remaja putri yang tidak memahami makna jilbab yang sebenarnya, selain itu mereka menyalahgunakan pemakaian jilbab itu sendiri. Seringkali fenomena ini terjadi dalam masyarakat sekitar kita, misalnya pada saat sekolah para remaja putri memakai busana jilbab hanya sebagai tuntutan dari peraturan sekolah yang mana itu berlaku hanya pada lingkungan sekolah saja, karena mereka mengenakan jilbab tersebut tidak berasal dari niat dan keingian mereka sendiri akan tetapi tuntutan dari suatu lingkungan tersebut. yang menjadi sudut pandang kita kali ini bagai manakah cara wanita memakai jilbab yang sesuai dengan aturan main islam,sebab banyak para wanita yg memakai jlbab secara lahirnya tapi secara batinnya dia tak ubahnya memamerkan tubuhnya kepada orang lain baik disengaja maupun tidak disengaja.
            Dalam suatu hadits pun telah dijelaskan bahwasanya nabi Muhammad telah memerintahkan secara tegas kepada umatnya untuk menyerukan anak-anak  perempuan dan istri-istri mereka untuk mengulurkan jilbab mereka, karena dengan jilbab pula dapat mencegah suatu perbuatan maksiat yang akan terjadi.sebagaimana telah disebutkan dalam firman Allah SWT dalam surat Al-ahzab yang berbunyi: “ Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang”. (Al Ahzab.59).
            Dengan demikian telah jelas bahwasanya sebagai seorang muslimah sejati, kita harus pandai-pandai menyikapi suatu keadaan, dengan memahami hakikat dan fungsi jilbab itu sendiri maka sudah sepatutnya kita wajib mengenakan busana jilbab disertai niat yang ikhlas tanpa adanya intervensi dari pihak-pihak lain. Mengingat adanya siksa Allah SWT yang sangat pedih bagi para wanita-wanita yang melanggar ketentuan perintah adanya mengenakan jilbab.