Sub Menu

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 April 2013

Cara Mencuci Bersih Harta Haram

By : Riyan Al Fajri


Pemateri             : Ust. Abduh Tuasikal, Msc.
Tempat               : Mesjid Al Hasanah, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik
Waktu                 : Minggu, 31 Maret 2013, 09.30-11.20 WIB
Tema                  : Membersihkan Harta yang Haram

Pekerjaan terbaik menurut Rasulullah adalah
1. Pekerjaan yang dilakukan dengan tangan sendiri (Misal: Petani, Nelayan dsb)
2. Jual Beli yang mabrur
Syarat jual-beli:
a)      Ridho antara pembeli-penjual (tidak dipaksa)
b)      Barang dapat diserah-terimakan
c)       Tidak ada gharar
d)      Akad yang jelas

Pengaruh dari Harta yang haram:
1. Doa
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, “…Dan Allah berfirman, “wahai orang-orang beriman, makanlah rezeki yang baik yang telah kami rezekikan kepadamu”. Kemudian rasulullah menceritakan seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai, dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa, “wahai tuhanku, wahai tuhanku”. Sedang makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?” (HR Muslim)

2. Amal
“Wahai para rasul, makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya aku mengetahui apa yang kamu lakukan” (Al Mu’minun: 51)

Makanan yang baik akan membawa pada kebaikan, sebagaimana Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya yang baik tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan. Namun benarkah harta benda itu kebaikan sejati? (HR Bukhari)

3. Kesehatan
“Berikanlah mas kawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, makanlah (ambillah) pemberian itu yang hanii (baik) lagi mariia (baik akibatnya) (Annisa:4)

Menurut Imam Al Qurthubi, Hanii itu baik yang enak dimakan dan tidak berefek negative, sedangkan mariia tidak menimbulkan efek samping setelah dimakan, mudah dicerna dan tidak menimbulkan penyakit. Dari penjelasan tersebut, kita simpulkan bahwa harta (makanan) yang haram dapat mengganggu kesehatan kita.

4. Akhirat
“Siapa yang daging nya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya (HR. Ibn. Hibban)


Harta Haram ada dua macam:
  1. Haram karena sifatnya (seperti Babi, Bangkai, Darah, dsb)
  2. Haram karena usaha mendapatkannya (Mencuri, Korupsi, dsb)

Pekerjaan yang Haram:
1. Mengandung ghoror (ketidakjelasan)
a. Ghoror dalam akad
b. Ghoror atas Barang/Jasa (ga jelas yang dijual-belikan itu apa)
c. Ghoror dalam pembayaran

2. Mengandung Riba, terbagi tiga yaitu
  1. Fadhil (tukar-menukar barang yang sama dengan tambahan nilai misal: emas 24 karat dengan 18 karat),
  2. Nasi’ah (tukar menukar barang dalam jenis yang sama dengan penundaan penyerahan, seperti kredit/utang)
  3. Qordh (utang-piutang yang disyaratkan keuntungan/timbal balik berupa pemanfaatan)

Kredit itu boleh asalkan:
  1. Barang yang dikreditkan itu milik penjual (Contoh: jual barang kredit panci, mobil di dealer, dsb)
  2. Barang yang dikreditkan itu bukan milik penjual namun kepemilikan menjadi pihak ketiga (contoh: Financial leasing yang kepemilikan berpindah)

3. Mengandung Dhoror (Bahaya)
contoh: menimbun barang dan menjualnya pada harga mahal. Jika menimbun itu tidak menimbulkan kelangkaan dan bahaya bagi masyarakat, itu tidak apa-apa. Tapi jika menimbulkan bahaya seperti antri panjang, dsb, itu salah

4. Terlarang karena sebab (seperti jual-beli pada shalat jumat)

Bagaimana Nilai Sedekah dengan harta yang haram?
“Tidak diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)” (HR Muslim)

Dimanakah kita menyalurkan harta yang haram?
Pendapat pertama, disalurkan untuk kepentingan kaum muslimin (Pendapat awal Ibn. Taimiyah)

Pendapat kedua, disalurkan untuk sedekah sunnah (kemaslahan kaum muslimin) (Pendapat Hanafiyah, Malikiyah, Imam Ahmad, Hambali, Imam Ghozali dan Syafi’iyah)

Pendapat ketiga, bisa disalurkan kemana saja asalkan tidak ke Mesjid (pendapat Lajnah Ad Daimah Kerajaan Saudi Arabia)

Pendapat keempat, disalurkan untuk tujuan fisabilillah (Pendapat revisi Ibn. Taimiyah)

Bagaimana Keuntungan yang diperoleh dari Modal yang berasal dari Harta yang Haram?

Pada awalnya Umar bin Khattab menyikapinya dengan memerintahkan untuk menyerahkan seluruh harta pada baitul maal. Keuntungan tidak boleh diambil oleh mereka yang memanfaatkan harta haram tadi. Lalu Abdullah ibn Umar menyanggah ayahnya dengan berkata, “Jia Usaha yang diusahakan harta itu rugi, maka rugi pula yang ditanggung bagi yang mengusahakannya. Lalu mengapa dalam masalah keuntungan tidak boleh didapat? Umar pun merubah keputusannya dengan ketentuan hasil keuntungan dari usaha harta haram tersebut 50% untuk umat, 50 % untuk orang yang menanggung resiko usaha dari harta haram tersebut”

Kaidah Fiqh:  Al Kharaju Bidhdhumman (Keuntungan milik yang berani menanggung resiko)

Penerapan Kaidah:
  1. Dalam mudharobah, berani ambil untung, berani menanggung rugi
  2. Dalam masalah dropshipping (penjualan online, reseller dsb). Berani untung, berani pula rugi
  3. Orang yang memanfaatkan harta curian untuk investasi. Ia berhak 50% atas keuntungan usahanya dan 50% lagi untuk kemaslahatan kaum muslimin.

#Fasbiqul Khairat

Minggu, 10 Februari 2013

Menjadi Negara Al Quran (Riyan Al-Fajri)

Menjadi Negara Al Quran
Tausiyah Kebangsaan oleh: Prof. Dr. M. Amien Rais MA
Tanggal: 19 Januari 2013

Al Quran telah banyak mengajarkan kisah-kisah siyasah dan kenegaraan. Salah satunya dalam Al Quran menceritakan kejadian zaman Nabi Musa. Dan dari hasil para pemikir islam, dapatlah kita mengetahui bahwa Negara akan hancur jika telah muncul penguasaan oleh 4 + 1 elit. Ini sudah dicontohkan dalam Al Quran di zaman Nabi Musa.

1. Elit Politik Zaman Musa, Elit politik yang menguasai adalah Fir’aun. Dia menguasai daratan dan jiwa-jiwa kaum dhuafa. Ketidakadilan, ketertindasan, sudah menjadi makanan sehari-hari kaum dhuafa saat itu. Sampai akhirnya Musa, bukan seorang kaya, mampu menenggelamkannya melalui izin dari Allah

2. Elit Militer
Elit Militer merupakan kalangan yang dekat dengan istana fir’aun. Setiap perkataan, perbuatan, dan tindakan istana diamini oleh mereka. Penindasan kaum dhuafa sudah tidak mampu dielakkan

3. Elit Ekonomi
Elit Ekonomi di zaman musa yang terkenal adalah Qorun. Sang pemilik harta yang congkak lagi sombong. Nasib nya dibenamkan oleh Allah didalam perut bumi. Sungguh tak terbayangkan apa saja yang telah diperbuatnya kepada kaum dhuafa disekitarnya

4. Elit Teknokrat
Elit ekonomi di zaman musa yang terkenal adalah Hamman. Ketika itu fir’aun memerintahkan Hamman agar membuat bangunan yang tinggi agar ia mampu melihat Tuhannya musa. Begitu hina mereka. Teknokrat adalah designer fisik dari sebuah negeri. Namun ketidakpahaman mereka akan menjadikan negeri salah dan tidak berjalan pada in the right track

5. Elit Rohaniawan yang terpeleset
Telah ada zaman Musa, rohaniawan yang ditunjukkan jalan yang benar namun ia memelesetkan dirinya. Ia benarkan tindakan lalim sang penguasa. Dan akhirnya, kaum dhuafa lah yang tersiksa.

Sekuat-kuat elit di zaman nabi musa tersebut, mereka kalah. Mereka dikalahkan oleh rakyat kecil, kaum dhuafa. Tapi harus ada syaratnya yakni WELL ORGANIZED. Tidak ujuk-ujuk Musa mampu mengalahkan mereka. Allah men-design pergerakan mereka dan membuat mereka dikejar-kejar hingga dibenamkanlah orang-orang kafir di lautan luas.

Untuk itu, kalian harus merapat pada rakyat. Harus merapat pada kaum dhuafa. Kenapa? Karena mereka butuh bantuan, kenapa? Karena ditangan merekalah kemenangan dijanjikan. Sebuah hadits yang masyur :

"Sunnah kalian itu diberi rizki oleh Allah dan dimenangkan olehnya karena dukungan dari kaum dhuafa"

Kita bisa mengambil contoh dari bagaimana negeri kita ini dimenangkan melalui kaum dhuafa. Tapi bukan berarti kita bisa menang begitu saja. Negeri kita dimenangkan oleh Allah, dimerdekakan oleh Allah melalui WELL ORGANIZED pemimpin-pemimpin yang dekat dengan kaum dhuafa. Soekarno, Bung Hatta, mereka yang memimpin pergerakan rakyat ini.

Oleh karena itu, kita berpihak. Kita tidak netral. Kita berpihak pada kaum dhuafa. Itulah warna kita. Maka Allah janjikan kemenangan untuk kita. Tapi dengan tambahan satu syarat lainnya, WELL ORGANIZED.

Kemajuan bangsa, tentu disebabkan oleh banyak factor. Factor yang paling berpengaruh adalah kaum minoritas kreatif. Kemajuan moral, kultural, dan teknologi ini berada ditangan mereka. Demi kaum dhuafa, kita harus bisa menjadi salah satu dari mereka, kaum minoritas kreatif.

Kenapa harus? Sebagian besar dari kita telah terjebak oleh rutinitas sehari-hari. Ada yang puas dengan dirinya, puas dengan keadaannya, dan puas dengan apa yang ia dapatkan. Coba pikirkan kenapa Libya jatuh? Negeri-negeri yang pembesarnya adalah elit-elit yang tersebut, tidak akan mampu memenangkan pertempuran dengan kaum dhuafa yang diberikan keberanian dari Allah. Itu janji Allah. Namun perlu dicermati dan dihayati bahwa Kemenangan masyarakat Libya itu kita mesti lihat dibelakangnya siapa. Kita perlu hati-hati. Libya sudah diserang oleh kaum tertentu untuk keuntungan tertentu. Tidak mustahil berikutnya adalah Indonesia maupun Negara tetangga kita, Malaysia. Karena kitalah Negara dengan populasi muslim terbesar di Dunia.

Menghadapi semua itu, kita harus kembali pada Pancasila. Kenapa pancasila? Pancasila adalah refleksi dari nilai-nilai Al Quran. Adil, adalah satu-satunya kata yang dimiliki oleh Al Quran dan tidak dimiliki yang lain. Dan itu masuk menjadi bagian dari Pancasila. Jadi, kembali ke pancasila berarti kembali pada nilai-nilai Al Quran yang mampu menyelamatkan manusia.

Kata lainnya adalah Adab. Bagaimana Al Quran diturunkan untuk menjadikan manusia lebih beradab. Paham kerakyatan pun tidak lepas darinya, bagaimana musyawarah telah dituliskan didalamnya untuk mencapi keadilan. Adil, Adab, Musyawarah. Nilai-nilai ini adalah nilai-nilai Al Quran. Jadi kembalilah pada Al Quran, negeri ini akan terselamatkan dengan janji Allah.

Kita harus ingat, ingat dengan baik, apa yang kita perjuangkan pada hari ini tidak akan serta merta dibalas Allah langsung. Butuh waktu sebagaimana sejarah juga menceritakan seperti itu. Tidak otomatis Indonesia merdeka bukan? Butuh waktu. 10 sampai berapa belas tahun ke depan. Hal yang harus kita lakukan adalah ISTIQOMAH. ISTIQOMAH atas apa yang kita perjuangkan. Jangan luntur oleh keberingasan kaum-kaum tertentu yang rusak.

Untuk itu, bangun budaya rakyat! Bangun budaya Islami! Hapuskan budaya feodal!

Bangun Budaya Islami! Bangun Budaya Islami!

#Belajar Politik = Belajar Agama Islam
#Fasbiqul Khairat

Selasa, 14 Agustus 2012

Bermimpi Tanpa Batas, Berusaha Penuh Asa

Dunia yang saat ini kita pijak dan seluruh isinya bukanlah hal yang abadi, berkesudahan, dan fana. Suatu saat, entah itu kapan, dunia ini pasti akan berakhir. Demikianlah janji Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, aku merahasiakan waktunya agar tiap-tiap diri dibalas atas apa yang diusahakan.” (Q.S. Thaha [20]:15)

Hari kiamat atau akhir dari kehidupan ini pasti akan datang, itu yang Allah janjikan, meski kita semua tidak pernah mengetahui kapan tepatnya peristiwa besar itu akan terjadi.

Oleh karena hidup tidaklah abadi, maka kita sebagai khalifah di muka bumi ini hendaklah memiliki targetan-targetan tertentu yang ingin kita capai selama hidup. Waktu terus berputar dan jatah hidup kita di dunia pun semakin berkurang.

Jumat, 05 Agustus 2011

Raihlah Malam Kemuliaan

Ini adalah kisah nyata yang berasal dari Gorontalo. Kisah ini mengenai kehidupan Kasim (57), seorang tunawisma di salah satu sudut kota Gorontalo, yang merasa kesepian dan putus asa menjalani hidup. Lalu, dengan bermodal sepeda tua, sebuntal pakaian serta pasir penggosok, ia berpindah-pindah tempat seantero kota. Dari rumah ke rumah, Kasim menawarkan jasanya untuk membersihkan wajan atau alat dapur lainnya dengan upah seribu hingga lima ribu rupiah.

Tak jarang ibu rumah tangga, hatinya tersentuh dan memberi upah yang lebih besar. Kasim memangtidak pernah menetapkan upah yang harus dibayar, setelah wajan-wajan mereka bersih dari kerak arang berkat khasiat pasir gosoknya. Sisa-sisa arang yang menyelinap di kuku jarinya cukup menjadi bukti bahwa pria paruh baya tersebut ikhlas menjalani pekerjaan yang unik itu. Kasim memang pantang menjadi seorang peminta-minta.