By: Tsani Ariant
46 tahun, bukanlah waktu yang cukup singkat bagi Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah (IMM) Ciputat untuk berkiprah dan berjuang menebarkan benih-benih
positif dalam lingkungan sosial masyarakat. Tentunya tugas utama kita sebagai
generasi muda adalah tetap menjaga citra baik ikatan dan mempertahankan eksistensi
kita dimata masyarakat luas. Sebagai kader, kita patut bersyukur hingga dewasa
ini IMM masih dipercaya dan diterima baik dikalangan masyarakat dalam
persaingan sehat dengan organisasi ekstra lainnya.
Jika diibaratkan
padi, semakin berisi maka ia akan merunduk, sama halnya dengan organisasi yang
menaungi kita. Ketika usia semakin bertambah, maka harus semakin meningkatkan
kualitas dan pengembangan pada diri kader baik disegala aspek tanpa melupakan asas
fundamental sebuah organisasi. Perlu diingat, bahwa prinsip bersifat statis,
tidak akan pernah berubah namun kreasi yang harusnya semakin berkembang seiring
pertumbuhan kader dan karakter lingkungan.
Berdasarkan sumber
dari salah satu senior IMM Ciputat dan pengamatan kami, maka penulis bisa
menyimpulkan bahwa memang ada kultur IMM yang berubah era sekarang dengan yang
dulu. Terlihat jelas, ada satu hal vital yang harus diperhatikan dari kader IMM
Ciputat yakni nilai religiusitas sedikit terkikis dan berkurang. Entah mengapa
sebagian kader lebih menyukai kajian teoritis daripada pengajian rohani,
antusias mereka pun terbilang kecil terhadap
implementasi wujud nilai religi, bahkan mereka lebih tertarik untuk
melakukan aksi pergerakan yang kian marak saat ini.
Penulis sedikit
mengutip kalimat dari kanda Jihadul Mubarok (Ketua Umum DPP IMM), bahwa adanya
turunan gerakan praksis harus lebih dikembangkan oleh kader ikatan khusunya,
namun tentunya arah pergerakan yang dilakukan harus sesuai dengan norma
kesusilaan yang berlaku. Melihat realita yang kita hadapi saat ini, kalau
mencoba membandingkan bentuk praksis yang dilakukan mahasiswa sekarang dan
tempo lalu memang jauh berbeda. Kalau pada saat itu mahasiswa secara murni memperjuangkan hak-hak
rakyat dan melawan ketidak adilan di negeri ini, tanpa ada unsur politik yang
menunggangi mereka, sehingga Mahasiswa terkenal memiliki sifat independensi
yang kental dan terkenal dengan sebutan Agent Of Change.
Mari kita coba mengamati peristiwa
kenaikan harga BBM yang dimulai pada awal April lalu, banyak menuai protes dari
kalangan Mahasiswa dan mereka menggalang massa untuk aksi besar-besaran untuk
menolak kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Pada umumnya seperti
<!--more-->
yang kita ketahui aksi protes yang dilakukan mahasiswa cenderung tidak produktif dan tidak menggunakan intelektualitasnya didalam menyikapi berbagai kebijakan pemerintah, diantara mereka banyak melakukan aksi-aksi pengrusakan fasilitas umum yang akan merugikan masyarakat, seperti menyegel SPBU, memblokir jalan, merusak lampu trafic Light dan lain sebagainya yang sebagai kaum akademis tidak sepantasnya untuk dilakukan. Alhasil,tak jarang kita menemui di setiap aksi mahasiswa akan berbuah bentrokan dengan aparat keamanan. Yang terjadi kemudian adalah mahasiswa menyalahkan aparat yang cenderung “resesif”, sementara aparat menyalahkan mahasiswa yang cenderung “anarkis”.
<!--more-->
yang kita ketahui aksi protes yang dilakukan mahasiswa cenderung tidak produktif dan tidak menggunakan intelektualitasnya didalam menyikapi berbagai kebijakan pemerintah, diantara mereka banyak melakukan aksi-aksi pengrusakan fasilitas umum yang akan merugikan masyarakat, seperti menyegel SPBU, memblokir jalan, merusak lampu trafic Light dan lain sebagainya yang sebagai kaum akademis tidak sepantasnya untuk dilakukan. Alhasil,tak jarang kita menemui di setiap aksi mahasiswa akan berbuah bentrokan dengan aparat keamanan. Yang terjadi kemudian adalah mahasiswa menyalahkan aparat yang cenderung “resesif”, sementara aparat menyalahkan mahasiswa yang cenderung “anarkis”.
Memang kejadian brutal mahasiswa disaat melakukan aksi
sangat disayangkan, sebagai kalangan yang setiap harinya berkecimpung di dunia
akademis seharusnya menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan terlebih
lagi harus lebih meneliti dan kritis didalam menyikapi setiap kebijakan yang
dikeluarkan Pemerintah, yang terjadi selama ini mayoritas dari peserta aksi
tidak mengetahui esensi dan urgensi yang harus diperjuangkan. Padahal, hal
tersebut yang menjadi dasar kita melaksanakan aksi.
Melihat kenyataan yang ada, telah terjadi sedikit perbedaan
antara tertangkapnya aktivis mahasiswa di era lalu dengan era sekarang. Di era
yang lalu (66 dan 98), aktivis mahasiswa ditangkap dan dipenjara karena
“ideologis dan pemikiran” mereka yang berseberangan dengan pemerintah. Sehingga
di masa tersebut mahasiswa dianggap sebagai Agent Of Change dan
kental nuansa Independen. Pada era tersebut, mahasiswa berhasil meraih simpati
masyarakat.
Ironisnya, di era sekarang aktivis mahasiswa ditangkap
karena tindakan mereka yang cenderung membuat kerusakan dan mengganggu
ketertiban umum, sehingga banyak masyarakat yang menilainya sebagai tindakan
anarkis. Aktivis mahasiswa dipandang sinis oleh sebagian besar masyarakat,
karena lebih kental aroma “politis” dibandingkan “sifat kritis”. Bahkan
dibeberapa elemen gerakan mahasiswa telah “ditunggangi” oleh kepentingan
politisi, untuk menyerang lawan-lawan politiknya.
Walhasil, sampai detik ini reputasi IMM
terjaga dari kontaminasi isu-isu buruk masyarakat dan tetap konsisten dengan gerakan
dakwah kultural yang bertendensi pada sisi intelektualitasnya.
Kader IMM harus kembali ke jati
dirinya.
Sebagai insan akademis haruslah memiliki intelektualitas
pada dirinya, hal inilah yang menjadi cermin bahwa mahasiswa itu sebagai
akademisi yang memiliki idealis dan intelektualitas yang tinggi serta berbudi
luhur, sehingga masyarakat memiliki kepercayaan atas perjuangan mahasiswa yang
mengatas namakan rakyat.
Aksi Mahasiswa adalah sebuah amanat dari rakyat kepada
mahasiswa sebagai kaum intelektual yang selalu mengkaji dan bergelut dengan
ilmu pengetahuan, jangan sampai kepercayaan rakyat kepada mahasiswa pudar
karena ulah kita sendiri.
Ingatlah wahai saudaraku aktivis Mahasiswa !!!
Berjuanglah
atas nama rakyat karena Allah SWT, jangan sampai perjuangan ini ternodai dengan
hasutan atau malah ditunggangi oleh golongan/kelompok tertentu. Sejatinya, IMM
tetap mengutamakan ciri khasnya yang telah lama diusung, yakni unggul dalam
intelektualitas, anggun dalam moralitas dan progressive dalam ikatan. Dengan
demikian makna “intelektualitas” kita secara tidak langsung tersebar dalam tiga
elemen basis ikatan. Oleh karena itu kader harus mampu memposisikan dirinya
menjadi sosok intelek dalam tradisi keilmuan, intelek dalam sisi religiusitas
dan mempunyai spirit lebih untuk peduli lingkungan atau dikatakan intelek dalam
menanggapi persoalan humanitas yang ada dalam ranah pergerakan maupun
masyarakat.