“Sesungguhnya
hari kiamat itu akan datang, aku merahasiakan waktunya agar tiap-tiap diri
dibalas atas apa yang diusahakan.” (Q.S. Thaha [20]:15)
Hari kiamat atau akhir dari kehidupan
ini pasti akan datang, itu yang Allah janjikan, meski kita semua tidak pernah
mengetahui kapan tepatnya peristiwa besar itu akan terjadi.
Oleh karena hidup tidaklah abadi, maka
kita sebagai khalifah di muka bumi ini hendaklah memiliki targetan-targetan
tertentu yang ingin kita capai selama hidup. Waktu terus berputar dan jatah
hidup kita di dunia pun semakin berkurang.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Siapa yang hari ini lebih baik dari hari
kemarin, maka dialah orang yang beruntung. Siapa yang hari ini sama dengan hari
kemarin, maka dia orang yang merugi. Siapa yang hari ini lebih buruk dari hari
kemarin, maka dia orang yang celaka.”
Hadis tersebut membuktikan bahwa
filsafat hidup seorang muslim adalah senantiasa melakukan perbaikan dari waktu
ke waktu dan perbaikan tersebut hanya dapat dicapai apabila kita memiliki
target-target dalam hidup. Targetan tersebut setidaknya akan menuntun kita
untuk melakukan perbaikan dan menyuntikkan semangat baru setiap harinya.
Walaupun mungkin terdengar sangat
idealis dan sangat ambisius, tetapi memasang target setinggi-tingginya ternyata
efektif memicu semangat kita untuk terus melakukan improvisasi dalam kehidupan.
Mengaktualisasikan semangat melalui segenap ikhtiar dan doa kepada Allah adalah
bukti nyata improvisasi hidup kita dalam usaha menggapai segenap targetan yang
telah kita susun.
“Bermimpilah,
maka Tuhan akan memeluk mimpimu.” (Dikutip dari novel
Sang Pemimpi karya Andrea Hirata)
Bermimpilah! Sesungguhnya Allah
mendengar dan malaikat mencatat. Kita memang tidak pernah tahu apa yang telah
Allah tuliskan di lauhul mahfudz,
tetapi Allah tidak pernah tidur dalam melihat usaha kita menuju
targetan-targetan terbaik yang kita susun. Allah tidak pernah memandang rendah
sekecil apapun target yang ingin kita capai. Allah pun tidak pernah lengah
mencatat setiap kebaikan yang kita lakukan.
“Siapa
yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya akan mendapat
balasannya.” (Q.S. Al-Zalzalah[99]:7)
Demi sebuah pencapaian, selain ikhtiar,
hal yang perlu kita lakukan adalah berdoa dengan sungguh-sungguh pada Allah dan
mendekatkan diri kepada-Nya. Karena tanpa pertolongan dari-Nya, mustahil bagi
kita untuk menggapai targetan dan mimpi. Setelah berdoa, kita bertawakkal,
mewakilkan seluruh urusan kita pada-Nya, menyerahkan segala keputusan di
tangan-Nya, sebab sesungguhnya hanya Dia-lah sebaik-baik pemberi keputusan.
Tidak semua targetan dapat dengan mulus
kita gapai, adakalanya setelah usaha keras yang kita lakukan, setelah segenap
tenaga kita kuras, dan setelah sekian banyak waktu yang kita habiskan untuk
berharap, ternyata targetan kita tidak kunjung tercapai. Jangan berkecil hati,
kegagalan bukanlah hal yang aneh bagi seorang pemenang. Bukankah seseorang
hanya bisa merasakan tingginya bukit setelah merasakan dalamnya lembah?
Kegagalan bukanlah pertanda Allah tidak mendengar doa-doa kita.
“Allah
hears even the very silent prayer of the sincere heart..” (Anonim)
Ada sebuah pesan bijak yang selalu Ibu
katakan kepada Saya saat mengalami kegagalan, “Allah hanya ingin mendengarmu terus meminta, memohon, dan berada dekat
dengan-Nya. Itulah mengapa Allah memberimu kegagalan sebelum kelak Dia
memberimu keberhasilan.”
Selalu ada hikmah dibalik setiap
musibah. Allah tidak pernah menciptakan segala yang sia-sia. Karena gagal,
manusia belajar. Karena kecewa, manusia memperbaiki kesalahan. Karena pernah
menangis, manusia menjadi lebih tegar. Karena jatuh, manusia bangkit. Karena
luka, manusia merasakan kesembuhan. Maka, jangan pernah mengeluh jika targetan
kita gagal dicapai. Tidak ada manusia yang tidak pernah gagal. Kegagalan adalah
suatu keniscayaan. Maka berhentilah meratap dikala gagal dan bangkitlah
menyusun strategi baru.
Namun, ada beberapa hal yang perlu
menjadi catatan bagi kita semua, bahwa targetan-targetan atau mimpi-mimpi yang
ingin kita capai hendaknya tidak menjadikan kita lalai terhadap kehidupan
ukhrowi atau kehidupan akhirat kita. Bila dianalogikan, kehidupan dunia
bagaikan pisau bermata dua. Segala kenikmatannya, apabila dapat kita manfaatkan
sebaik mungkin, akan menjadi sarana pengantar kita kepada kehidupan yang
bahagia di akhirat kelak, tapi bila yang terjadi adalah sebaliknya, dunialah
yang akan mencelakakan kita dan menjebak kita di neraka.
Teruslah menyusun targetan hidup dan
teruslah, bermimpi tanpa batas dan berjuang penuh asa! Jadilah manusia terbaik
yang selalu melakukan perbaikan di muka bumi.
Fastabiqul Khoirot.
(Setiani/pspdumj)