Sub Menu

Selasa, 14 Agustus 2012

Bermimpi Tanpa Batas, Berusaha Penuh Asa

Dunia yang saat ini kita pijak dan seluruh isinya bukanlah hal yang abadi, berkesudahan, dan fana. Suatu saat, entah itu kapan, dunia ini pasti akan berakhir. Demikianlah janji Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, aku merahasiakan waktunya agar tiap-tiap diri dibalas atas apa yang diusahakan.” (Q.S. Thaha [20]:15)

Hari kiamat atau akhir dari kehidupan ini pasti akan datang, itu yang Allah janjikan, meski kita semua tidak pernah mengetahui kapan tepatnya peristiwa besar itu akan terjadi.

Oleh karena hidup tidaklah abadi, maka kita sebagai khalifah di muka bumi ini hendaklah memiliki targetan-targetan tertentu yang ingin kita capai selama hidup. Waktu terus berputar dan jatah hidup kita di dunia pun semakin berkurang.


Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dialah orang yang beruntung. Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia orang yang merugi. Siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dia orang yang celaka.”

Hadis tersebut membuktikan bahwa filsafat hidup seorang muslim adalah senantiasa melakukan perbaikan dari waktu ke waktu dan perbaikan tersebut hanya dapat dicapai apabila kita memiliki target-target dalam hidup. Targetan tersebut setidaknya akan menuntun kita untuk melakukan perbaikan dan menyuntikkan semangat baru setiap harinya.

Walaupun mungkin terdengar sangat idealis dan sangat ambisius, tetapi memasang target setinggi-tingginya ternyata efektif memicu semangat kita untuk terus melakukan improvisasi dalam kehidupan. Mengaktualisasikan semangat melalui segenap ikhtiar dan doa kepada Allah adalah bukti nyata improvisasi hidup kita dalam usaha menggapai segenap targetan yang telah kita susun.

“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu.” (Dikutip dari novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata)

Bermimpilah! Sesungguhnya Allah mendengar dan malaikat mencatat. Kita memang tidak pernah tahu apa yang telah Allah tuliskan di lauhul mahfudz, tetapi Allah tidak pernah tidur dalam melihat usaha kita menuju targetan-targetan terbaik yang kita susun. Allah tidak pernah memandang rendah sekecil apapun target yang ingin kita capai. Allah pun tidak pernah lengah mencatat setiap kebaikan yang kita lakukan.

“Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya akan mendapat balasannya.” (Q.S. Al-Zalzalah[99]:7)

Demi sebuah pencapaian, selain ikhtiar, hal yang perlu kita lakukan adalah berdoa dengan sungguh-sungguh pada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Karena tanpa pertolongan dari-Nya, mustahil bagi kita untuk menggapai targetan dan mimpi. Setelah berdoa, kita bertawakkal, mewakilkan seluruh urusan kita pada-Nya, menyerahkan segala keputusan di tangan-Nya, sebab sesungguhnya hanya Dia-lah sebaik-baik pemberi keputusan.

Tidak semua targetan dapat dengan mulus kita gapai, adakalanya setelah usaha keras yang kita lakukan, setelah segenap tenaga kita kuras, dan setelah sekian banyak waktu yang kita habiskan untuk berharap, ternyata targetan kita tidak kunjung tercapai. Jangan berkecil hati, kegagalan bukanlah hal yang aneh bagi seorang pemenang. Bukankah seseorang hanya bisa merasakan tingginya bukit setelah merasakan dalamnya lembah? Kegagalan bukanlah pertanda Allah tidak mendengar doa-doa kita.

“Allah hears even the very silent prayer of the sincere heart..” (Anonim)

Ada sebuah pesan bijak yang selalu Ibu katakan kepada Saya saat mengalami kegagalan, “Allah hanya ingin mendengarmu terus meminta, memohon, dan berada dekat dengan-Nya. Itulah mengapa Allah memberimu kegagalan sebelum kelak Dia memberimu keberhasilan.”

Selalu ada hikmah dibalik setiap musibah. Allah tidak pernah menciptakan segala yang sia-sia. Karena gagal, manusia belajar. Karena kecewa, manusia memperbaiki kesalahan. Karena pernah menangis, manusia menjadi lebih tegar. Karena jatuh, manusia bangkit. Karena luka, manusia merasakan kesembuhan. Maka, jangan pernah mengeluh jika targetan kita gagal dicapai. Tidak ada manusia yang tidak pernah gagal. Kegagalan adalah suatu keniscayaan. Maka berhentilah meratap dikala gagal dan bangkitlah menyusun strategi baru.

Namun, ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan bagi kita semua, bahwa targetan-targetan atau mimpi-mimpi yang ingin kita capai hendaknya tidak menjadikan kita lalai terhadap kehidupan ukhrowi atau kehidupan akhirat kita. Bila dianalogikan, kehidupan dunia bagaikan pisau bermata dua. Segala kenikmatannya, apabila dapat kita manfaatkan sebaik mungkin, akan menjadi sarana pengantar kita kepada kehidupan yang bahagia di akhirat kelak, tapi bila yang terjadi adalah sebaliknya, dunialah yang akan mencelakakan kita dan menjebak kita di neraka.

Teruslah menyusun targetan hidup dan teruslah, bermimpi tanpa batas dan berjuang penuh asa! Jadilah manusia terbaik yang selalu melakukan perbaikan di muka bumi.

Fastabiqul Khoirot.

(Setiani/pspdumj)